Selasa, 09 Desember 2014

Sepenggal Cerita



Kuburan itu tanpa nisan, hanya tumpukan batu yang tersusun sedemikian rupa sehingga membentuk gundukan. Seorang gadis berbaju hitam, bermuka muram dengan rambut lurus sebahu tertunduk di  tepi kuburan. Tangannya mengusap gundukan batu, bibir mungilnya bergerak melafazkan doa bagi penghuninya. Dia tidak begitu yakin apakah benar kekasih hatinya yang terbaring di situ.  Sampai satu tangan kecil menyentuh bahunya, menanyakan apa yang sedang dilakukannya.
“Apa ini kubur Winarko?” Tanya sang gadis.
Bocah laki laki itu menggeleng tanda tidak tahu. Kemudian Lari menjauh menuju seorang tua di sudut area pemakaman yang menggunakan topi jerami dengan cangkul di tangan.  Si orang tua berjalan menuju ke tempat gadis itu berdiri.
Sekali lagi si gadis menanyakan hal yang sama kepada orang tua itu.
“Ya betul, ini kuburnya. Satu bulan yang lalu dia dikuburkan, saya sendiri yang menggalinya.” Jelas si orang tua.
“Tapi mengapa tidak ada batu nisannya sebagai tanda?” Tanya gadis itu lagi.
“Saya juga kurang tahu mba’ katanya sih ini permintaan almarhum sendiri.” Jelas si orang tua.
Si gadis mengucapkan terima kasih sambil membungkukan badannya. Si orang tua balas mengangguk dan segera kembali ke tempatnya semula. Beberapa saat si gadis pun berlalu, pergi dengan  mobil yang dipacu sekencang-kencangnya. Air mata masih membekas di pipinya yang dilapisi bedak tipis. 
Sampai di rumahnya dia terduduk di tepi ranjang yang hangat. Diambilnya album foto dimana beberapa kenangan tersimpan rapi di dalamnya. Foto-foto bersama kekasih hati, Winarko, yang begitu dia cintai. Dia akan tetap menyimpannya, sehingga akan menjadi kenangan yang terindah bagi mereka berdua.
Setelah dua tahun, rona ceria sudah kembali di wajah gadis itu. Seperti putri yang bangun dari tidur, kecantikannya masih murni belum tersapu lapisan bedak atau semacamnya.  Dia pun mulai menapaki kehidupan baru hari itu. Jadwal kuliah yang padat perlahan mengikis ingatannya dan bertemu teman teman baru menambah gairah hidupnya.
Sampai satu ketika dia bertemu Adi , sahabat almarhum Winarko, yang sedang liburan di Yogyakarta. Pertemuan tidak sengaja itu mengingatkan kembali memori lama yang terpendam. Seperti lembaran foto yang tersusun terhampar di pelupuk matanya .  Adi memang tidak setampan Winarko. Tubuhnya pun kurus dengan rambut gondrong yang cukup rapi, namun tatapan matanya tajam laksana mata elang.  
Ternyata Adi memang kesana karena ingin menemuinya, menemui kekasih sahabatnya. Ada beberapa pertanyaan yang ingin Adi tanyakan. Setelah menempuh sekitar setengah jam Adi pun sampai di rumah si gadis. Setelah sedikit berbasa-basi Adi mulai mengajukan pertanyaan.
“Kenapa di akhir hidup Win lu ga ada Dhe?
“Gue yang menemaninya di akhir nafasnya. Lu kemana? Kenapa lu pergi?”
Berondongan  pertanyaan Adi membuat kepalanya berdenyut, jantungnya berdetak lebih keras. Matanya mulai berair, dia menghindari tatapan tajam lawan bicaranya.
“Gue ga tau Di, gue bener-bener ga tau.”
“Lu cinta khan sama win?”
“Ya. Gue cinta, sangat cinta Di.”
“Tapi setahun sebelum meninggal, Win mutusin gue Di. Win minta gue jauhin dia.”
“Maksud lu?”
 “Lu inget waktu lu ajak gue ke Blok M, apa lu pikir gue bakal mau lu ajak kalo gue masih ama Win?”
Adi mengerutkan keningnya, tak percaya gadis manis di hadapannya mengatakan hal seperti itu. Ada emosi yang meledak dari kata-katanya. Seakan-akan gunung Merapi yang memuntahkan lahar panas. Sekarang Adi sendiri yang tidak mampu menatap ke bola mata gadis itu. Dia hanya memandang lurus jauh ke tanaman perdu yang ada di halaman.

[Adjie S, Desa Sindet, Jetis, Bantul, 1996]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for reading our blog, please make some comment.